Liputan6.com, Jakarta Surat Al-Fil adalah surat ke-105 dalam Al-Qur’an, terdiri dari lima ayat yang diturunkan di Mekkah. Surat ini tergolong Makkiyah, menjadi pengingat akan kekuasaan Allah SWT dalam melindungi Ka'bah dari ancaman pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah. Kisah ini bukan hanya sekadar catatan sejarah, tetapi juga pelajaran berharga tentang keimanan dan tawakal kepada Allah.
Menurut buku Tafsir Al-Muyassar karya Kelompok Ulama di bawah koordinasi Kementerian Agama Saudi (2002), Surat Al-Fil merupakan pengingat bagi kaum Quraisy akan karunia Allah yang menyelamatkan tanah suci dari ancaman Abrahah. Surat ini ditafsirkan sebagai bukti nyata kekuasaan Allah yang mampu menghancurkan kekuatan besar dengan cara yang tidak terduga. Allah menunjukan kuasa-Nya melalui burung-burung yang melemparkan batu dari tanah liat yang dibakar.
Baca Juga
Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa Allah SWT senantiasa melindungi rumah-Nya dan orang-orang yang beriman kepada-Nya. Kisah ini juga mengajarkan umat Islam untuk selalu bertawakal dan berserah diri kepada Allah dalam menghadapi segala cobaan. Jangan pernah meragukan pertolongan Allah, karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Advertisement
Berikut Liputan6.com ulas lengkap tentang al fil dan penjelasannya dirangkum dari berbagai sumber, Rabu (2/7/2025).
Highlight Ramadan hari ini datang dengan informasi seputar pelatihan baca Al-Qur'an dari dalam rumah tahanan Padang hingga kisah seorang migram muslim di Bosnia.
Arab, Latin dan Terjemahan Surat Al Fil
Berikut adalah teks lengkap Surat Al-Fil berdasarkan mushaf standar, seperti juga tercantum dalam Al-Qur’an dan Terjemahannya oleh Kementerian Agama RI (2020):
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
Alam tara kaifa fa‘ala rabbuka bi-ashḥābil fīl (Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?)
أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ
Alam yaj‘al kaidahum fī taḍlīl (Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia?)
وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ
Wa ar-sala ‘alaihim ṭairan abābīl (Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,)
تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ
Tarmīhim biḥijāratim min sijjīl (Yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar,)
فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ
Fa ja‘alahum ka‘aṣfim ma’kūl (Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat))
Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb (2004), dijelaskan bahwa peristiwa ini adalah bagian dari sejarah penting bagi bangsa Arab karena menjadi pembuka jalan bagi dakwah Islam. Allah menunjukkan bahwa Dia menjaga rumah-Nya (Ka'bah) dengan kekuatan-Nya sendiri. Tafsir ini menekankan aspek spiritual bahwa pertolongan Allah bisa datang dalam bentuk yang luar biasa dan tidak masuk akal secara logika manusia.
Sementara itu, dalam jurnal “Makna Pendidikan dari Surat Al-Fil dalam Konteks Pembentukan Karakter” oleh Fitriani (2021) yang terbit di Jurnal Tarbiyah Islamiyah, Surat Al-Fil mengandung nilai karakter keimanan yang kuat. Anak-anak dan pelajar dapat mengambil nilai keteladanan dari sikap tawakal kepada Allah dan keyakinan bahwa Allah akan menolong mereka yang berada di jalan kebenaran.
Advertisement
Asbabun Nuzul Surat Al Fil
- Peristiwa Pasukan Gajah Abrahah: Surat al‑Fīl turun sebagai pengingat dari peristiwa “Pasukan Gajah” yang dipimpin oleh Abrahah, penguasa Yaman, yang berniat menghancurkan Ka’bah di Makkah.
- Sunnah Al‑Wāhidī dalam Ilmu Asbāb al‑Nuzūl: Dalam kitab Asbāb al‑Nuzūl milik Al‑Wāhidī, dijelaskan bahwa Surat al‑Fīl datang bukan untuk menetapkan hukum baru, melainkan untuk mengingatkan Quraisy atas kejayaan Allah melindungi Ka’bah.
- Perbedaan Antara Asbāb Nuzūl dan Iqṭirān Bi Zaman: Beberapa ulama menarik garis batas antara “asbāb nuzūl” dan narasi sejarah. Al‑Suyūṭī mencatat bahwa Surat al‑Fīl lebih tepat diposisikan sebagai bentuk iqṭirān bi zaman (penyisipan cerita masa lalu) bukan sebagai asbāb nuzūl.
- Corpus Semiotik dan Nilai Symbolic: Dalam penelitian kontemporer, simbol “gajah” dan “burung abābīl” dianalisis secara semiotik sebagai metafora kekuasaan manusia yang mudah hancur di hadapan kuasa Allah.
Jurnal Syahādah: Kajian Historis Turunnya Ayat al-Qur’an (2018) menekankan bahwa secara metodologis, penempatan Surat al‑Fīl berkaitan erat dengan tema utama “perlindungan Allah atas Ka’bah”. Peristiwa Abrahah hanyalah ilustrasi, bukan teks legislasi langsung.
Bukti Nyata Perlindungan Allah dalam Al Fil
1. Pertolongan Malaikat dan Burung Abābīl: Bukti Langsung Kekuasaan Allah
Peristiwa yang digambarkan dalam Surah Al-Fīl menunjukkan bagaimana Allah SWT menggunakan sarana yang tidak terduga untuk melindungi tempat suci-Nya, Ka'bah. Dalam kitab Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm karya Ibnu Katsīr (2006), dijelaskan bahwa Allah mengirim burung-burung yang disebut Abābīl—yakni burung dalam jumlah besar dan berkelompok—yang membawa batu dari tanah liat yang dibakar (سِجِّيلٍ) untuk menghancurkan pasukan gajah pimpinan Abrahah.
Batu yang dibawa oleh burung-burung itu, menurut tafsir tersebut, bukan sekadar batu biasa. Ibnu Katsīr mengutip beberapa riwayat bahwa batu tersebut mengenai pasukan Abrahah dengan sangat presisi, menghancurkan tubuh mereka dari kepala hingga kaki. Ini bukan hanya fenomena fisik, tetapi juga mujizat Ilahi yang menunjukkan intervensi langsung dari langit terhadap upaya penghancuran Ka'bah.
Sebagaimana tertulis dalam Surah Al-Fīl (QS. 105:3-5), Allah berfirman:
“Dan Dia mengirim kepada mereka burung-burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”
2. Aksi Abdul-Muttalib: Tawakkal dan Ketundukan Penuh kepada Allah
Sikap Abdul-Muttalib, kakek Nabi Muhammad ﷺ, saat menghadapi ancaman pasukan Abrahah juga menjadi salah satu bukti spiritual akan perlindungan Allah terhadap Ka'bah. Dalam berbagai tafsir, termasuk yang dikutip dalam Qur’an.com (2025) dan situs The Quran Love, diceritakan bahwa Abdul-Muttalib, yang saat itu menjadi tokoh Quraisy paling terhormat, tidak mencoba menghadapi pasukan gajah dengan kekuatan militer.
Sebaliknya, ia berkata dengan penuh keimanan:
“Ka’bah memiliki Pemilik. Dialah yang akan melindunginya.”
3. Kekuatan Tuhan Melampaui Kekuatan Manusia: Pelajaran Strategis dari Pasukan Gajah
Dalam kajian yang diterbitkan oleh Journal of Qur’anic Studies (2007), yang juga dikutip dalam beberapa artikel ensiklopedik seperti Wikipedia, dijelaskan bahwa peristiwa ini mengandung pesan filosofis yang dalam. Allah SWT menunjukkan bahwa kekuatan tidak semata-mata terletak pada jumlah pasukan, kecanggihan alat, atau kehebatan teknologi. Pasukan Abrahah yang besar dan kuat—didukung oleh gajah perang—tidak mampu menandingi kekuatan Ilahi yang hadir dalam bentuk burung kecil dan batu.
Dari sudut pandang militer dan sosial-politik, ini sangat tidak logis. Namun, dalam kerangka tauhid dan iman, ini merupakan pelajaran penting: Allah bisa menghancurkan yang kuat melalui hal yang lemah, jika itu dikehendaki-Nya. Bahkan, dalam banyak tafsir disebutkan bahwa sebagian pasukan Abrahah hancur dengan cara mengenaskan, tubuh mereka rusak, kulit melepuh, dan akhirnya mati perlahan-lahan akibat batu-batu kecil yang dilemparkan oleh burung tersebut.
Advertisement
Makna dan Tafsir Surat Al Fil
1. Makna Bahasa dan Konteks Historis
Surat al‑Fīl (Surah ke‑105) menggambarkan kebesaran Allah SWT dalam melindungi Ka’bah dari pasukan bergajah pimpinan Abrahah. Kitab tafsir Al‑Tafsir al‑Munīr oleh Muhammad ‘Alī ash‑Shābūrī memaparkan makna “fīl” sebagai gajah dan menggarisbawahi konteks sejarah turunannya pada tahun Gajah (570 M), ketika Abrahah berusaha merusak Ka’bah dan berhasil digagalkan Allah melalui burung abābīl serta biji batu panas.
2. Tafsir Klasik: Ibnu Katsīr dan Al‑Monir
Imam Ibnu Katsīr dalam Tafsīr al‑Qur’ān al‑ʿAẓīm menjelaskan bahwa kejadian ini adalah bukti perlindungan Allah atas Baitulloh dan pembuktian keesaan-Nya. Ia menuturkan bahwa Abrahah dan tentaranya musnah, dan hal ini menjadi mukjizat yang sampai turun kepada Nabi Muhammad ﷺ. Pendapat ini selaras dengan riwayat yang termuat dalam berbagai karya klasik.
3. Tafsir Kontemporer: Al‑Wāhidī, al‑Qurtubi, al‑Bayḍāwī
Al‑Wāhidī dalam Asbāb al‑Nuzūl menyatakan nilai moral surat ini sebagai peringatan bahwa keagungan Ka’bah tidak dapat digoyahkan oleh mereka yang bermusuhan dengan syiar Islam.
Al‑Qurtubi (abad ke‑13) menegaskan bahwa kisah ini juga mengandung hikmah bagi umat Muslim agar tidak menyombongkan diri dan tetap taat, serta menjadi pengingat keberkahan ketakwaan.
Al‑Bayḍāwī menjelaskan surat ini secara singkat, menekankan aspek gaya bahasa, baik secara gramatikal maupun retorikanya sebagai cerminan iʿjāz lughawi Al‑Qur’an.
4. Pendekatan Semiotik Modern
Dalam jurnal Islamida edisi Februari 2022, Munawar Haris menggunakan teori semiotik Roland Barthes untuk menafsirkan simbolisme “burung abābīl” dan “biji batu” sebagai refleksi ketidakberdayaan manusia melawan kehendak Allah. Penelitian ini menyoroti nilai pendidikan agama dan pengajaran moral dari kisah tersebut.
5. Pesan Teologis dan Pendidikan Islam
Dalam artikel akademik di Jurnal Turats Vol. 7 No. 1 (Januari 2011), disebutkan bahwa surat ini mengandung nilai kepemimpinan dan ketakwaan. Tafsir Ahmad Musthafa al-Marāghī menekankan pentingnya pengajaran sejarah Quraisy yang sukses menjaga kemuliaan Baitulloh sebagai landasan keimanan.
Relevansi Surat al‑Fil bagi Umat Saat Ini
1. Surat al‑Fil sebagai Pengingat Spiritual di Era Modern
Surat al‑Fil mengandung pesan bahwa Allah senantiasa melindungi syiar-Nya, sebagaimana tercermin dalam kisah pasukan bergajah Abrahah. Sebagaimana dijelaskan Munawar Haris (2022) dalam jurnal Islamida, kisah ini menjadi sumber spiritual yang menenangkan hati dan memperkuat keimanan di tengah tantangan zaman modern.
2. Aktivasi Rasa Keagamaan melalui Pembacaan Rutin
Dalam studi “Dinamika Resepsi terhadap Surah al‑Fil” (Jurnal Ilmu Agama, Des 2023), Hilda Husaini Rusdi mengungkap bahwa umat saat ini membaca surah ini tidak hanya sebagai teks sejarah, melainkan sebagai ritual pemaknaan spiritual yang meningkatkan kesadaran akan kuasa Tuhan dan menjaga kesejahteraan rohani.
3. Reinterpretasi Kontekstual: Surah al‑Fil dan Krisis Global
Jurnal Academic Journal of Islamic Principles and Philosophy (Mei–Okt 2020) membahas “Reinterpretasi Surat al‑Fil dalam Konteks Wabah”. Penelitian ini menunjukkan bahwa umat dapat menarik pelajaran dari kisah tersebut saat menghadapi situasi krisis seperti pandemi, yakni bahwa kekuasaan Allah mampu mengatasi ancaman besar sekalipun.
4. Nilai Pendidikan Islami: Kepemimpinan dan Ketakwaan
Menurut penelitian Wisnawati Loeis dalam Jurnal Turats Vol. 7 No. 1 (2011), tafsir Ahmad Musthafa al‑Marāghī terhadap Surat al‑Fil menekankan pentingnya meneladani keteguhan dan keyakinan umat Quraisy. Surat ini relevan sebagai materi pendidikan agama yang membentuk karakter disiplin dan kepemimpinan
5. Menumbuhkan Kebiasaan Membaca Al‑Qur’an
Hilda Rusdi juga mencatat bahwa pembacaan Surat al‑Fil mendorong umat untuk semakin teratur membaca Qur’an harian, karena keyakinan bahwa “bacalah Al-Qur’an kerana kamu akan diberi pahala padanya”. Hal ini menguatkan semangat pembaca dalam menghayati setiap surat, termasuk yang pendek seperti al‑Fil.
Advertisement
QnA Seputar Al Fil
1. Apa isi dan inti dari Surah Al-Fil?
Surah Al-Fil menceritakan bagaimana Allah SWT menghancurkan pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah saat ingin menghancurkan Ka'bah. Intinya, Allah melindungi rumah-Nya dari serangan musuh dengan mengirimkan burung Ababil yang melempar batu panas dari neraka kepada pasukan tersebut.
2. Berapa ayat dalam Surah Al-Fil dan termasuk surat apa dalam Al-Qur’an?
Surah Al-Fil terdiri dari 5 ayat dan termasuk surat Makkiyah (diturunkan di Mekah). Surat ini terdapat dalam Juz 30 (Juz Amma).
3. Apa keutamaan membaca Surah Al-Fil?
Membaca Surah Al-Fil dapat menjadi pengingat bahwa Allah Maha Kuasa dalam menghancurkan siapa saja yang berlaku zalim dan congkak. Beberapa ulama juga menjelaskan, dengan membacanya, kita diingatkan untuk memohon perlindungan dari musuh yang hendak mencelakai kita.
4. Kenapa Surah ini dinamakan “Al-Fil” yang berarti “Gajah”?
Dinamakan “Al-Fil” karena surat ini mengisahkan pasukan Abrahah yang membawa gajah untuk menghancurkan Ka'bah. Namun, mereka gagal karena kekuasaan Allah SWT yang menurunkan burung Ababil untuk menghancurkan pasukan tersebut.
5. Apa pelajaran yang bisa diambil dari kisah Surah Al-Fil?
Pelajaran dari Surah Al-Fil adalah bahwa sehebat apa pun rencana manusia yang berniat merusak rumah Allah atau berbuat zalim, pasti akan hancur atas izin Allah. Surat ini mengajarkan tentang kebesaran Allah dan pentingnya kita untuk selalu bertawakal serta tidak sombong dengan kekuatan dunia.